SURABAYA (16/11/2017) – Kecanggihan alat-alat yang ada di Terminal Teluk Lamong telah terdengar dan menarik perhatian Busan Port Authority (BPA), Korea. Busan Port merupakan pelabuhan tertua dan tersibuk di Korea, suatu kebanggaan bagi Terminal Teluk Lamong menjadi pelabuhan benchmarking bagi Busan Port Authority. Busan Port Authorithy merupakan suatu badan pemerintahan Korea Selatan yang bertanggung jawab  atas perdagangan maritim.

 

Di Terminal Teluk Lamong, Busan menempati urutan teratas untuk Kota dengan pengiriman box terbanyak dari Korea Selatan, mengikuti selanjutnya Kwangyang, Pusan New Port, dan Ulsan. Terletak di mulut Sungai Naktong, Pelabuhan Busan berada di teluk yang terlindungi dan menghadap Kepulauan Tsushima Jepang. Busan Port menangani hamper 40% dari total cargo laut negara, 80% cargo container, dan 42% perikanan nasional. Pelabuhan ini menangani hampir 130 kapal setiap hari.

IMG_9423.JPG

 

HEO In-Suck, Deputi Manager BPA, menjelaskan bahwa tujuan kunjungan BPA ke Terminal Teluk Lamong ialah untuk mengetahui spesifikasi alat-alat yang beroperasi di Terminal Teluk Lamong secara garis besar, mempelajari pola operasi dan pengembangan pelayanan pelabuhan.

 "Pelabuhan kami menggunakan beberapa alat yang sama dengan Terminal Teluk Lamong namun dengan spesifikasi yang berbeda, kami ingin mempelajari perbedaan tersebut karena alat-alat di sini memiliki spesifikasi yang lebih canggih", jelas HEO In-Suck.

 

Kunjungan ini dihadiri oleh tim dari Busan Port Authority sebanyak 7 (tujuh) orang dan disambut oleh Direktur Human Capital, Keuangan dan Umum, Eko Hariyadi Budiyanto serta jajaran manager seperti Manager Customer Business and Development, Wara Dijatmika; Manager Operasional, Erdwardnul Djohar; Corporate Secretary, Arief Yarmanto; dan Manager QHSSE, Anang Januarindoko.

 

Terminal Teluk Lamong telah membuktikan diri sebagai Terminal berbasis ramah lingkungan yang didukung berbagai peralatan dan fasilitas yang canggih sehingga mampu mengimbangi keunggulan pelabuhan-pelabuhan di Negara lain. Dengan kedalaman wharf sisi internasional sedalam -14 m LWS sangat memungkinkan bagi kapal-kapal internasional berukuran besar mampu bersandar dan melakukan bongkar muat di Terminal Teluk Lamong.

 

Berbagai fasilitas canggih di Terminal Teluk Lamong yang mendukung baik petikemas maupun curah kering membantu mempercepat proses bongkar muat. Curah Kering telah dilengkapi dengan Grab Ship Unloader (GSU) sebanyak 2 (dua) unit yang didatangkan dari Dalian, China memiliki kapasitas handling sebesar 2000 ton/jam. Curah kering juga didukung dengan conveyor belt dengan kapasitas sebesar 2500 ton/jam/lane yang langsung menuju Silo (tempat penyimpanan curah kering).

 

Dari sisi petikemas, Terminal Teluk Lamong telah dilengkapi oleh masing-masing 5 (lima) unit STS (Ship To Shore) untuk kapal domestik dan internasional (twin lift) dengan kapasitas bongkar hingga 35 box/jam. Kinerja petikemas Teluk lamong juga didukung  dengan tambahan 20 unit ASC (Automated Stacking Crane) yang membantu pengaturan dan penumpukan container di area CY (Container Yard).


IMG_9487.JPG

 

Berbagai kecanggihan alat yang mendukung fasilitas bongkar muat petikemas serta aktivitas curah kering inilah yang membuat dunia mengenal Terminal Teluk Lamong, sehingga Terminal Teluk Lamong seringkali mendapat lawatan dari berbagai pelabuhan dari negara lain dalam melakukan benchmarking serta menjalin hubungan kerja yang baik. Terminal Teluk Lamong merupakan hasil inovasi Pelabuhan Indonesia III (Persero) dalam memecah kepadatan lalu lintas bongkar muat kapal sekaligus mendorong efisiensi logistik nasional secara bersamaan.